Sabtu, 31 Maret 2012

Seluruh Nafas Ini♥

Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
aku tak akan lupa, tak akan pernah bisa
tentang apa yang harus memisahkan kita

Saat ku tertatih tanpa kau di sini
kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

Jika memang dirimulah tulang rusukku
kau akan kembali pada tubuh ini
ku akan tua dan mati dalam pelukmu
untukmu seluruh nafas ini

Kita telah lewati rasa yang telah mati
bukan hal baru bila kau tinggalkan aku
tanpa kita mencari jalan untuk kembali
takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku

Di saatku tertatih (saat ku tertatih)
tanpa kau di sini (tanpa kau di sini)
kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

Jika memang kau terlahir hanya untukku
bawalah hatiku dan lekas kembali
ku nikmati rindu yang datang membunuhku
untukmu seluruh nafas ini

Dan ini yang terakhir aku menyakitimu
ini yang terakhir aku meninggalkanmu
takkan ku sia-siakan hidupmu lagi
ini yang terakhir dan ini yang terakhir
takkan ku sia-siakan hidupmu lagi ..
Share:

Kamis, 29 Maret 2012

Rte.

RT @MFathiyyah: 
   Maret benar-benar akan berakhir. Maret benar-benar akan pergi. Saya pasti rindu tugas-tugas menggila di bulan Maret. Saya pasti rindu suasana US, belajar bersama di rumah Winda, makan gorengan, mas joko sama-sama, makan pisgor, dan makan minum lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.  Saya pasti akan rindu semuanya. March, are you really going to leave? March, I know, you’ll always stay. Right next to me.
Wed, 28th of March 2012.
Share:

Ego.

  Semuanya terbentuk dari Sebuah keping keegoisan yang bertumpuk menjadi satu. Keegoisan itu akhirnya membentuk sebuah tumpukan besar dan mengalahkan hati yang mengendalikannya. Dan seketika ia membludak dan menghasilkan butiran demi butiran jernih yang disebut air mata.
  Ya! Egolah yang membuat hatinya mati. Ia ingin yang terbaik, Tapi nyatanya salah. Ego seakan membuat lingkungan yang berbalut dengannya terlihat senyap. Tidak ada kebahagiaan. Pastinya, Ia menyesal di kemudian hari.

  Lalu, Apa solusi dari semua ini? Mereka meninggalkannya di tengah keramaian orang-orang besar yang berlalu lalang. Ia sendiri. Tak ada yang berani menemaninya. Semua karena keegoisan. Egoisme telah membunuh jiwa beserta hatinya.
   Kebisingan seolah semakin memahitkan hatinya yang sedang berkecamuk. Dan seketikaa .. Semuanya membuncah, Membuncah menjadi butiran-butiran jernih yang melesat dengan halus di pipinya.
Share:

Sabtu, 24 Maret 2012