Jumat, 27 September 2019

Genetically Engineered


Seminggu yang lalu.. gue sempat terkesima dengan pembahasan dosen magister gue soal newest invention from USA, stating that we were actually has been genetically engineered. DNA kita udah dikonstruksi sedemikian rupa, dan sedetail mungkin. Semua cerita hidup kita ada dalam DNA kita dan mereka menemukan alat untuk mendeteksi itu. Karena berbasis kesehatan, maka penekanannya ke kesehatan juga. Jadi semua penyakit yang akan lo derita bakalan bisa terprediksi sejak lo masi jadi fetus guys.. bahkan usianya pun sudah bisa terdeteksi. Misal nih, lo bakal derita penyakit DM di usia 40 tahun, dan itu sebenarnya bisa dikonstruksi kembali melalui serangkaian pengkodean genetik. Hebat gasih ini:”)

Point dari penulisan gue adalah.. gue terkesima aja sama statement yang nyatain bahwa takdir itu memang ada. Lauhul mahfudz itu emang bener ada. Tetapi mereka mendefinisikan lauhul mahfudz melalui gen. Dosen gue bilang, bahkan kita terkumpul di tempat ini, di ruang perkuliahan ini sudah dikonstruksi sebaik mungkin dan ditakdirkan sama Allah. Ini seperti, ada gaya magnet dalam DNA kita yang akan saling mempertemukan kita dengan orang lain dalam waktu dan kondisi yang sudah ditentukan juga.

Maafin gue yang rada melankolis ini. Pernah gasih kalian berpikir untuk semua kemungkinan, beribu ribu kemungkinan di dunia ini dan ternyata terjadi satu kemungkinan dan untuk “menenangkan diri” kalian memercayai bahwa itu adalah takdir? Atau hanya sebuah kebetulan?

Lantas gue berpikir mengenai teman-teman KKN gue. What if gue ngatur penempatan gue, what if ada seseorang yang hampir bgt gajadi ambil kkn profesi kemarin, atau ada yang daftar jenis kkn lain, mungkin aja gaada cerita kkn gue yang seseru kemarin.

Long story short.. gue jadi ingat kalau sebenernya saat ruh kita ditiupin pertama kali ke dunia, kita udah menyepakati segala hal, segala takdir kita di dunia ini. We have alrd sign a beautiful contract, that we have been actually engineered, right from the start.

Share:

Jumat, 06 September 2019

hehehe


Gue nulis ini di kondisi gue lagi sendiri, di klinik, lagi ga ada pasien, dan orang orang pada quality time di luar.

Ya.. hi people,

gue lagi sedih karena adik gue sedih. Seluruh keluarga gue sedih. Ofc. Karena adik gue ga lulus tahap terakhir STAN. Ini tes keduanya. Tes pertama doi ga lulus dan hanya -1 poin dari nilai standar. Dan tahun ini, nilainya sangat diluar ekspektasi, jauh memuaskan. Nilai psikotes yang luar biasa. Tes kebugaran dan kesehatan mencapai standar. Dan gagal di shuttle run karena mencapai 24 detik, beda 4 detik dari standar. Hanya karena adik gue jatuh di detik terakhir. DETIK TERAKHIR. Depan mata gue. idk di detik itu juga sakit bertubi tubi perasaan gue. segala kata kata orang soal “jangan jatuh saat TKK” terngiang ngiang. Rasanya perasaan dan harapan gue hancur, tapi lebih hancur lagi hati gue saat ngeliat adik gue kesakitan karena jatuh. Badannya lebam. Mukanya lemas tidak bersemangat karena ketika pulang harus dianterin sama bapak security naik motor karena ga sanggup jalan..

Saat itu gue rela bangun jam 5 subuh di tengah hectic perkoasan gue, ga masuk klinik seminggu, bolos koas sehari demi temenin adik gue. tiap pagi sore dia latihan. Minum jus wortel, susu beruang tiap hari. Berbulan bulan. Tiap hari ibu gue nelfon kabarin progress adik gue. betapa senangnya ayah dan ibu gue soal berita bahagia yang adik gue bawa semenjak dia keterima tahap 1 stan. Yang lulus bisa dihitung dengan jari dari kota palu. Sampe sampe ibu gue yang orangnya pemikir banget over little thing yang tanpa sadar gennya diturunin ke gue juga wkwkwk, gapernah stres whenever gue keluhin gaada pasien. Padahal kemarin kemarin pasien gue ga datang 1 aja doi udah ikutan stres luar biasa. Tapi kemarin semuanya berhasil tertutupi sama berita baik adik gue selama 2 bulan ini.

Yang mau gue bilang, gue sedih, gue tau perasaan adik gue ga lolos 3x berturut turut di pilihannya. Sedih banget karena rerata dia gak lulus di kata nyaris. Nyaris banget malah. But yes, almost is never enough, tho. Gue sedih aja guys.. dengan keterimanya adik gue di stan, beban hidup gue berkurang sebagai anak pertama, sebagai anak yang dibangga banggakan, sebagai harapan tulang punggung keluarga. Gue pengen juga liat adik gue dibangga banggain depan orang lain, depan keluarga gue. beban hidup untuk ngebiayain adik adik gue bisa gue share ke dia, tapi nyatanya qadarullah, Allah bilangnya belum.. hehehe:’)

Yang buat gue kepikiran juga adalah, waktu ini merupakan timing yang pass buat gue nentuin lanjut S2 apa nggak . Gue lagi ada di fase melulusi matrikulasi s1, dan alhamdulillah lulus. Jujur gue capek banget, keteteran banget, tiap hari kerjaannya mau nangis nyelesain semuanya. Walopun di satu sisi gue nikmatin prosesnya. Tapi spp adik gue mahal wkwkwk. Egois banget gue ambil s2 bareng koas gigi yang menguras dompet sedangkan adik gue aja s1 nya belum selesai. Tapi di satu sisi, gue pengen taking a long break 2-3 tahun post dokter gigi dari persekolahan. Gue pengen fokus berkarir. Gue pengen quality time bareng ortu gue. gamau sekolah dulu. Dan hanya ini satu-satunya waktu yang pas buat gue untuk ambil s2, meskipun ngga di universitas impian gue, yang penting kan ilmunya. hehehe

Cerita demi cerita, setelah telfonan tadi, sekeluarga alhamdulillah legowo. Selalu ambil hikmahnya. Selalu tau bahwa ada yang lebih baik dari ini. Tapi gabisa bohong gue sedih sekali. Pengen banget gue shalat tapi lagi gabisa shalat wkwkwk. Bahkan yang lebih sedih dari ini, kalimat penutup dari ibu gue bilangnya “sekolah baik2 nak, cepat lulus" udah ketebak ekspresi gue gimana hehew.


“bisa jadi kamu membenci sesuatu tapi ia baik bagimu”percaya kok sama firman ini. :")
Share:

Kamis, 05 September 2019

Sia

saya menulis ini saat sedang dalam beristirahat dalam rentetan perjalanan ini. ini seperti saya sedang mengelilingi labirin yang dikelilingi pintu pintu terbuka yang tidak ingin saya masukki sejak awal. Meskipun, pada pintu ke sekian yang saya lewati.. rasanya ada gaya magnet yang menarik saya ke dalam titik persinggahan yang ternyata ada kamu di dalamnya. 

begitu lihainya kamu merasuki saya dan segala pikiranku. dalam hitungan detik, tidak terhitung berapa bagian dari kamu yang berhasil menutupi semua celahku, membuat saya menjadi perempuan paling beruntung di dalam pikiran saya. masih teringat jelas beberapa kali kamu menyalakan lampu harapan meski kadangkala ia redup. beberapa kali saya tidur tenggelam dalam pangkuan citamu yang begitu erat hingga saya terlampau percaya. sebab sudah lama rasanya saya tidak membenamkan diri pada perasaan seperti ini lagi, sebab sudah lama saya belum pernah dipertemukan dengan orang seperti kamu, lagi.

sampai pada akhirnya saya pulang. saya terpaksa pulang karena jiwaku sudah kadaluarsa menelusuri pikiranmu, katamu. saya kembali, menelusuri labirin yang lain. beberapa kali saya melewati pintumu, sesekali mengetuk, beberapa kali mengintip, sekian kali mengendap endap mencoba masuk kembali. Namun setiap kali saya melewati titik persinggahan milikmu, ini seperti saya sedang mencoba mendobrak paksa pintumu yang sudah membatu untuk saya masukki. saya lupa, bahwa tuhan pernah menyebut kita ini sia-sia.
x
Share:

Kamis, 15 Agustus 2019

Aku dan segala perasaanku


HAI GUYS JUMPA LAGI dengan awindaps!yey. daripada pake gue, se mau pake se kali ini karena se lagi nyaman pake kata se dibanding kata gue. Jadi akhir akhir ini gue hectic koas. Antara malas dan mulai menghadapi titik jenuh though eventually gue bakal maksa diri jugak. Tapi jujur gue lagi capek, banget T.T

So im currently magang di klinik dosen gue dan terikat seumur koas gue. Jadi kalau gue udah dokter gue bisa bebas 3x seminggu. Pulangnya ya jam 10-12an malam. Sabtu minggu gue kuliah s2. Gue juga masuk dalam organisasi dewan mahasiswa profesi. Kalau dipikir pikir lagi gue sih yang salah dalam hal ini, taking too much things. Tapi sebenernya gue hanya ingin mengatasi perasaan perasaan tidak bermanfaat, waktu yang terbuang sia-sia. Sederhananya gitu.. walopun iya gue tau gue salah.

Dan lagi, gue pengen cerita lagi. Udah setahun ya.. iya udah setahun. Gue masih winda yang sama. Who is taking everything too deep. #buatyangtautauaja padahal, setahun yang lalu gue pengen juga kayak orang orang yang cerita kkn nya free banget tanpa ada perasaan bersalah, tanpa ada yang mengganjal, tanpa ada perasaan sedih dan sebagainya. Gue pengen banget juga reuni tanpa ada yang mengganjal, tanpa ada masalah, mengenang bebas soal kkn kayak yang lain. Iya mau juga. hehe

Yaa.. gue kangen aja denger ammar aka kordes berantem sama lia. Gue kangen sifat ibuk posko yang ngayomin banget. Gue kangen setempat tidur sama alifah beralaskan papan. Gue kangen banget setiap kebablasan tidur karena capek pasti gue bangun udah dengan selimut, or vice versa. Gue kangen aja masak di dapur. nyuci piring. Potong sayur. Nyuci sayur di hari ultah gue tanpa sadar yang gue masak adalah sampahnya et kausa gue senyum gajelas sepanjang hari. Kangen begadang sampe tengah malam karena proker, atau minjem lcd pak lurah mau nobar sambil buat sarabba. Kangen makan bareng. Kangen semobil bersebelas, ke swalayan yang terkenal di desa itupun udah seneng banget. Kangen nyanyi nyanyi bareng. Kangen berantem. Kangen ketawa terbahak bahak. Kangen banget.

Sampe sekarang rasanya semua udah gue anggap sodara. 49 hari bareng, 24 jam. Makan makanan yang sama, tidur di tempat yang sama, mandi dengan air yang sama. Gimana gue gasayang sih sama orang-orang ini? Kadang gue pengen ngutukin diri sendiri, kenapa juga gue harus meladeni apa yang gue rasain dan at the end gue kehilangan orang yang gue sayang. Dan mungkin, kenapa kenapa lainnya. Teruntuk bapak jokowi, sejujurnya perasaan saya masih sama pak sama rakyat bapak. Omg dasar aku.

Share:

Sabtu, 22 Juni 2019

Selesai dengan diri sendiri

Entah kenapa kata-kata “selesai dengan diri sendiri” echoing to my ears for these few days.. sederhana tanpa banyak ribet kata kunto aji, that deep too..

Yang gue denger, untuk berorganisasi kita harus selesai dengan diri sendiri dulu baru bisa ngurusin, wadahin orang lain. Yang gue denger, untuk magang di klinik lo harus bisa selesai dengan diri lo sendiri dulu baru bisa magang. Artinya, seberapa hancur day lo paginya di koas, seberapa sedih dan buruknya hari itu.. lo dituntut harus bisa mengabaikan itu dan working as it never happened.
Ya kayak juga koas gigi.. mau lagi dimarahin, mau gaada uang, mau hati lo hancur lebur, mau lo sakit, mau lo kurang tidur, gue expected harus punya make up yang ceria depan pasien-pasien gue. Harus bisa komunikasi dan hibur pasien by ignoring your own mood.

Hanya curcol dikit karena di twitter ga enough kalau curcol sepanjang ini. But as for me, an introvert’s mind never sleeps. They would even never “selesai dengan diri sendiri” atas berbagai perkara yang terjadi di hari itu pasti dipikirin all day. Me my self too, but i force to be. Ah iya, happy ramadhan bloggies<3 walopun telat hehehe
Share:

Selasa, 26 Maret 2019

Psychologically saying...

So guys kali ini gue bakal bahas permasalahan koas gue kemarin. After hampir 3 bulan ini... akhirnya gue ngerasain nangis nangisnya koas kayak gimana. Wajar emangsi kalau orang-orang pada bilang koas gigi kayak neraka ya emang iya. Semasa preklinik gue hampir gapernah nangis, h-5 hari seminar hasil gue bermasalah sama kepala bagian dan dibentak-bentak, surat seminar hasil gue hampir ga keluar karena harus ada ttd beliau, tapi gue ga nangis sama sekali. Gue dituduh nyontek sama dosen gue ga nangis sama sekali. Tapi kemarin gue nangis sampe terisak-isak. Lebay HAHA

I know setiap penjurusan or even bidang gapernah ada yang enak, semua pasti punya lika liku. Koas gigi juga kayak gitu, di satu sisi lo datengin pasien sendiri, nyari pasien sendiri, pada satu kondisi jemput dan pulangin pasien sendiri, dan make sure jadwal pasien lo harus bersesuaian sama jam kedatangan dokter. Ya gimanapun sulit. Nyatuin jadwal pasien, dokter, and dirimu sendiri. Selain itu make sure juga lo ga keliatan bego saat ngelapor di dokter, dan saat ngerjain pasien. artinya siap sedia belajar. di satu sisi pula lu dituntut selesain requirement meanwhile administrasi rumah sakit ribet, dari regist-sampe pembayaran yang bisa makan waktu sejam buat antri. Beruntung ketika dalam momen antri itu dokternya ga pulang, atau pasiennya masih cukup sabar. Kalau nggak? Kebayang kan gimana “nyiksa” nya?

Gue memasuki bagian orto. Orang-orang pada sebut sih behel. Prosesi behel itu memakan waktu berbulan-bulan perawatan, jadi make sure pasien yang kita ambil ga bakal lari dalam waktu bulanan dan komitmen. Kalau lari? Apes dong. Ngulang lagi. Prosesinya juga ribet, cetak dulu, administrasi, acc, cetak lagi, analisis lagi, acc lagi ke dokter. Setelah pembicaraan kasus di hadapan umat koas dimana dirimu bisa saja dibantai abis abisan karena salah ngitung atau salah analisis. Di pembicaraan model kita talking tentang rencana perawatan, semisal dalam pembicaraan tersebut gue menjanjikan buat mundurin giginya sejauh 3 mm ke dalam, jadi rencana perawatan gue harus sesuai dengan realisasinya. Dan kemarin gue ngelakuin hal tersebut.

Gue ngebasis sendiri (nempel nempel semen; ibarat kerja tukang) di model gue sampe jam 2 subuh. Gue booking ruangan. Gue dateng setengah jam sebelum kedatangan. Gue ngeprint absen. malemnya Gue ingetin anak-anak untuk kirim pptnya ke dokter. Dan saat presentasi, PM gue dibatalin sepihak. Dengan alasan ppt gue ga bagus dan kelebihan baris padahal hanya soal pemeriksaan yang barisnya per poin aja. Wajar gasih? Dan menurut gue secara subjektif gue paling siap buat pembicaraan model, karena rencana perawatan temen2 gue yang berhasil lolos ga seideal ekspektasi, masi banyak celahnya juga. Tapi karena alasan ga logis seperti itu gue batal. Gue sakit ati laaaaaaah, dan gue berusaha aja buat sok tegar sok kuat depan audience koas dan para kakak kakak koas. Bayangin dari 5 orang, gue 2 orang dibatalin. Di hadapan orang banyak.

Setelah audience bubar gue kuatin hati buat maju ke dokter tersebut. Yang terkenal aslinya emang baik seantero jagad kandea. Dan tiba tiba dia ngelemparin kata-kata “kenapa kamu malas sekali buat ppt yang kayak punya teman temanmu?” pedes hati gue gengs denger kata-kata tersebut. Bcs malemnya gue pc doi dan doi minta dikirimin ke email dan udah diread doang. Dalam hati gue pengen banget teriak “sudah saya kirim di emailta dok” dan rangkaian kata-kata tersebut tumpah bersama air mata. Gue nangis depannya doi. Bukan karena gue pengen dikasihanin, tapi karena gakuat. Karena gue sakit hati to the max. Karena ini ambang pintu perjalanan pasien gue dan dibatalin gitu aja. If only he knew how i struggle to be in this point...

Semua temen gue bubar kecuali 1 orang. Cowok. Namanya D. Gaperlu gue jelasin dan dia juga lolos. Kata-kata yang dia utarakan dan temen2 gue yang lolos kayak gini:

“yang penting nda sendiri. Kan berdua jitoh yang nda jadi” easy emang sih kalau lolos presentasi saat ituJ
“Semangat nah. Bukan berarti gagal di semuanya” easy emang ya berkata-kata

“nda boleh ko nangis. Harus ko liat kakak yang dibatalkan padahal dia lagi kejar ujian. Ujiannya nda keburumi” easy emang kalau bicaranya post pm dan berbahagia lolos. You did not feel the moment. perbandingan will not ever work at that very moment.

Maafin gue ketus. But honestly whenever you face kasus seperti ini, temen-temen lo yang lagi sedih gapernah butuh kata “semangat” ga pernah butuh kata “sabar, kuat, tabah” tapi psychologically saying lo butuh orang yang ngerti perasaan lo. Yang ngerti gimana rasanya jadi diri lo. Paling-paling ujung ujungnya, sok care. Maafin gue ketus sekali lagi.

At the end karena nangis terus, gue balik ke kosan padahal gue harus minta ttd lagi jam 4 tanda kehadiran. Gue tidur dan ga kerja pasien sama sekali. Gue balik RS jam 4 dengan mata super bengkak (maybe lo udah tau gue gabisa sedih, karena gue nangisnya totalitas sampe mata gue ketutup karena bengkak) terus teman2 pada nanya “awin kenapa?” ofc, i wont answer. Gue gasuka sebenernya ketahuan kalau lagi sedih. But my eyes cant lie. I cried lagi.

It is adel who makes me cry. Jadi gue cerita singkat aja  “Pmku batal”sambil gue bisik si adel.
 “i guess no one would understand” sambung gue dalam hati. Tapi nyatanya gue salah pandang kali ini. Adel perempuan polos yang ga banyak tanya ga banyak bicara. Dia ngeliatin gue sambil senyum getir “nangis mki awin. saya juga pernah seminar hasilku diulang 2 kali. Dan yang kedua kalinya dibatalkan. Saya menangis besar” satu kata penutup yang buat gue pengen meluk adel saat itu. Dia ga bilang semangat, dia ga bilang sabar, dia gabilang masih ada PM yang lain. Tapi dia ngerti. Dia ngerti apa yang gue rasain.

Saat itu gue gakuat. Gue nelfon ibu gue dan ceritain semuanya. Ibu gue responnya “sendiriji dibatalkan PM nya? menghadap mki lagi sekarang nak, biarmi saja dimaki2 diam saja” but gue merasa bukan ini yang gue butuh. Saat seseorang sedih dan lo kasih solusi atau bertanya soal alur kejadiannya, honestly it will not ever work. As for me. En gue matiin telfon ibu gue karena hal tersebut buat gue tambah nyesek aja bcs ga mungkin banget gue menghadap dengan hati yang tidak karuan, dengan mata yang super bengkak.

Dan sepanjang hari gue ditelfon ayah dan ibu because mereka worrying so much. Gue ga angkat karena hp sengaja gue airplane mode. At the end gue angkat telfon ayah habis maghrib. He didnt say so much. Only 6 minutes but it really works.

“istighfar saja nak, baca doa supaya hatinya dosennya bisa diluluhkan, minta sama Allah, supaya dia luluh dan mengasihi seperti anaknya sendiri” I cried lyke much HAHA

“tidak apa apa, mahasiswa memang begitu. Ayah juga pernah diusir dan dimakimaki” I CRIED TOO MUCH MORE

“ayah doakan saya dan. Doakan saja saya supaya lancar”

“doanya ayah tidak pernah putus”

Gue nangis lagi. Bahkan ngetik inipun gue nangis lagi terharu H3H3. Gue cerita lagi ke kakak senior gue yang gue anggap pengertian bet, cowok, dan dia Cuma bilang “KO KAYAK TIDAK PERNAH HIDUP DI KANDEA SAJA. BARUJI 3 BULAN CUPUMI. MASI BANYAK AJANG LIKA LIKU YANG LAIN. BOHONG KALAU SELAMA KOAS TIDAK PERNAH BERURAI AIR MATA. Percaya saja konsepsi rezeki, tidak pernahji salah alamat. Jalani saja” setidaknya gue tenang banget.

Hoiya tadi gue pulang klinik almost tengah malem masi dengan snelli by gojek. Terus gue kelupaan helmnya. “misi mba helmnya” “oiye mas maaf lupa” “capek sekali mki itu di” gue senyum lepas.

Apaya.. bahagia itu sesederhana dipahami. Sesederhana dimengerti. Sekian.
Share:

Minggu, 30 Desember 2018

2018

SOOOO gue habis travelling ke 2 blog andalanGue di sebelah sana. so much inspiring buat pad, karena sebenernya gue juga sedang berusaha melakukan hal yang sama di sepanjang 2018 kemarin. dan sebenernya gue mau post soal klinik, tapi gegara denger backsound blog ain mood gue jadi kebawa lagunya.. my favourite one! dan kepengen nulis 2018 juga. my amazing year too..

2018 has been my very year. a year of incredible things in one. gue travelling ke sumenep selama 8 hari bareng aul akbar, gue terbang bareng 2 tim gue ke malang, pulpa's 2nd anniversary, and a month later gue terima pengumuman kalau tim pkm gue dapat hibah untuk jalanin penelitian, a super struggling and toughest months.. karena gue jalanin sesuatu yang bukan bidang gue. gue belajar bagaimana ngelakuin penelitian pendahuluan, produksi, distribusi, ngurusin perizinan BPOM, Dinkes dan ngurusin paten, gimana gue belajar untuk promosi dan branding walopun ga maksimal.. kesulitannya mungkin karena di satu sisi akademik gue yang jalan setiap hari, disertai organisasi dan skripsi dimana gue kejar target walopun agak telat dikit ehehe. intinya gue belajar sabar, gue belajar setiap sesuatu punya timing dan ada sesuatu yang gabisa kita paksakan. alhamdulillah alaa kulli haal.

di bulan yang sama, i was joining HDSC, tempat trauma gue muncul buat lomba di tahun 2017 karena gue dibantai habis habisan. but ini namanya there comes a rainbow after the rain, i got the first place bareng tim gue setelah kompetisi pertama gagal. ahya setelahnya, gue demis di organisasi yang satu, tapi naik lagi di organisasi internal. gue kepanggil jadi pengurus di ukm, tapi gue nolak. sedih yha kan pasti.. karena ini ukm yang gue perjuangin buat masuk, the hypes of competition tentu masih ada, dan sumbernya dari sini. hanya saja, to me it is important to know your limit. mengambil banyak tanggung jawab tapi ga maksimal menurut gue sama aja dikali dengan nol, dan gue gamau itu terjadi hehe

di pertengahan tahun, gue ngejalanin kkn selama 49 hari. lucu ajasi kkn yang begitu singkat tapi perasaannya dalam. gue jadi sekretaris kecamatan yang isinya 12 desa. dimana at the same time gue booming se antero kkn-pk karena terlibat cinta lokasi bahkan sampe kedengeran di wd3 fk*lap keringat* hmm lucu ajasi karena setiap kunjungan posko yang dalam kisaran menit lu bisa saling kenal sama 11 orang lintas fakultas kesehatan sekaligus. dan total kenalan lu bisa mencapai puluhan orang. bisa saling follow instagram, bisa nginep dan kerjasama with posko lain, yaa pokoknya gue banyak belajar soal kehidupan, gue belajar masak!!!HAHAHA. gue belajar lebih terorganisir, dan yang paling penting gue belajar untuk berani pulang pergi naik angkot sendirian makassar-takalar. :")

beberapa bulan setelahnya, setelah gue puas senyam senyum everyday.. that day finally hits me. a heartbreaking truth where all the things left was, acceptance yang jujur gue jadi kembali dingin soal jatuh cinta. dan gue ga akan pernah lupa juga soal gempa, tsunami, likuifaksi yang buat air mata gue ga berhenti bercucuran. yang buat tidur gue ga pernah tenang mikirin betapa gelap dan menyedihkannya palu saat itu. yang buat makanan gue rasanya hambar. yang buat semangat gue ilang hampir berminggu minggu hanya dalam waktu sepersekian menit. yang buat gue kangen at its max. palu ngataku.

masih edisi, life is about balancing... di tanggal 17 oktober, tepat di hari ulang tahun ibu. gue seminar akhir ditemani keluarga gue lengkap. yang buat gue terharu, orang tua gue yang ga berenti senyam senyum saat itu. yang gue ga nyangka gue terima banyaaaak banget hadiah yang apaya.. it was beyond of my expectations. i do not even know what did i do, to deserve all of their kindness. kenapa baik banget sih:") ohiya, di tahun ini juga gue jadi deket banget sama pembimbing skripsi gue di luar hubungan kita sebagai mahasiswa dan dosen, gue kadang ditelfon, kalau ketemu gue pasti cium tangan dan cipika cipiki, lykeeeeeee gatau intinya gue seneng banget sampe speechless hehe.

di bulan november gue joining competition walopun ga menang sih.. yang bikin gue bersyukur it was kompetisi of anak FK, dan gue jadi satu satunya tim dari fkg yang ikut presentasi di final walopun ga menang. but i am such a satisfier for this thing. dan di bulan yang sama pula, gue keterima di klinik dosen gue, gabisa bohong sih kalau capeknya kebangetaaaan karena kerjanya dari sore sampe malem, bisa kena jam 11:30 malah setiap harinya. hanya saja ilmu dan pengalamannya banyak banget alhamdulillah, darisini gue belajar komitmen karena lyke really gue bakalan magang sampe gue dokter nanti, dan wajib kerja 3 bulan dulu terus balik melaksanakan kewajiban yang lain.

and yeash! december. gue yudis dan wisuda at the age of 20th, within the span of 3,4 years. walaupun banyak yang lebih jagosih ketimbang gue. tapi jadi seorang self appreciator gapapa kan ya ehehe. yang bikin gue terharu lagi di wisuda gue banyak banget yang datang sampe setengah 3 masih ada malah. hadiah gue banyak banget:") gue pikirnya terhenti di sidang akhir doang, huhu cant thank you enough for this thing. alhamdulillah, alhamdulillahhirrabbil alamiiiiin.. terima kasih yaaAllah untuk segala kebahagiaan dan kesulitan yang selalu ada hikmah dibaliknya. sekian for today, thank you for such amazing year, 2018!
Share:

Selasa, 06 November 2018

Jangan dibaca. Entar nyesel.


Sejak my huge heart break happened, gue started to commit myself buat jadi seorang awind yang ideal di mata orang-orang. Gue berusaha menutup diri dari segala bentuk rasa kasmaran. Gue bener bener fokus aja ke akademik gue, ke organisasi gue, intinya gue berusaha jadi the best versions of my self.. yang tanpa sadar sebenernya gue literally sedang faking my own self. Ini sebenernya bentuk pelampiasan dari rasa sakit hati gue, dari dendam gue, dari kegilaan perasaan gue AHAHA lebay banget tapi iya. Gue gapernah rasa selemes saat itu in days. Pokoknya gue ga mau ngulang rasanya lagi deh titik.

Alhasil, for these past 3 years gue dikenal sebagai awind yang periang-kerjanya hahahihi-kalem-(sok) bijak-dewasa. Penilaian orang sih ini. Gue cuma summing up aja. Gue dikenal ga pernah marah. Karena emang gue gapernah marah ke orang yang gue merasa ga deket*nah loh?. Yang gue suka dari temen angkatan gue, di satu sisi they treated me as my own self, yang super spoiled dan juga childish. Tapi di satu sisi they trust my ability to be a real woman. Yang kayak.. gue seperti “dianakkecilkan” or being so apa ya amitamit manggil nama “ih awin juga mau ini” “ih awind ndatau” “ih awin nda mau” but in another sides they acknowledge my ability in taking decisions. Even in hard decisions. Handling anything. Kayak komunikasi ke senior dan dosen, or even kalau ada masalah. Ini hal baru yang gue dapetin disini... karena sejujurnya sewaktu di sekolah dulu gue gapernah dapetin kesempatan untuk dipercaya wholeheartedly:”) *perasaan gue doang sih*Intro gue kepanjangan lagi yakan hm. 

Gue dan dia adalah 2 kepribadian yang berbeda. Doi suka main cewek, dan gue gapernah sentuh cowok lagi for these 3 years. Karena gue trauma juga sih. Dia superberada dan rada hedon, gue cewek biasa aja, naik motor lagi. Dia anak fk, gue anak fkg. Kesamaan kita? Organisatoris iya. Suka haha hihi. Cepet banget overrated sama sesuatu WKWK. Both of us rada sanguin. Suka main. Dan perasaannya halus. I mean, we are using our feeling in taking decision. Dia ENFJ dan gue INFP. Cocoknya 100% banget katanya. Aries dan Leo, as he always believed. Katanya cocok. Katanya. Tapi gue masih gapercayaan orangnya. Gue susah percaya orang.

Saat gue jadian kemarin, temen gue semua di fkg pada kaget dan heboh. “inimi oleh oleh yang kobawa setelah kkn?” gue hanya bisa bales senyum doang. Karena gue udah terlanjur making my self terlihat sebagai orang yang ga sentuh cowo sama sekali. Gue gapernah tuh post galau galau di instastory gue. Gapernah bicarain cowok. For almost 3 years. Boncengan ama cowo aja gue milih, malah bisa di hitung dengan jari dalam 3 tahun ini. Gue keliatan tapi hidden. Gimana ya bahasainnya.. They didnt know me actually. Bukan karena mereka failed, tapi karena gue yang gamau keliatan. Gue yang gamau diketahui terlalu detail. Dan a thing that i should be thankful for, angkatan gue udah merasa kayak saudara semuanya. Jadi anything harus diketahui. Ya kayak GRDlah.. mace pace pacar itu hal wajib yang harus diketahui satu sama lain. Tapi gue bukan kayak gitu.. sejak gue pacaran pertama kali gue gapernah libatin orang dalam taking decision soal perasaan. Gue gamau ada faktor x yang mempengaruhi ini. Ya ini hal bodoh sih. Purely by feeling. Tapi udah diminished kok hehehe. INTRO GUE KEPANJANGAN LAGI.

Otherwise, di FK semua orang juga pada heboh. Gossipers everywhere. Lu bayangin tekanan batin gue karena strata sosial yang mereka bentuk. Gue jauh sangat sederhana dari standar cewe yang biasa doi deketin. Gue gatau gaya, gue gatau makeup, beli barang ga berdasarkan brand. Kebayang kan tekanannya gimana, apalagi di FK banyak yang cantik dan dia salah satu cowo idaman. They even said he was a masterpiece. Gue kesannya kayak upik abu di mata mereka.. i wrote this with my heart just to let you know. Ya tapi tetep ada juga sih yang supporting gue. H3H3

Sejak gue jadian, semua cowok di angkatan gue berasa jauh dari gue. Ketua angkatan gue musuhin gue kayak anak kecil yang buat gue kesel setengah hidup. Gue kayak kehilangan orang. Iyasih karena mereka ga sepakat gue pacaran. Gue tau sih kalau mereka sayang, tapi apayaaaaaaaaa kalian ngerti gasih kalau terlanjur sayang dan percaya orang?!?!?!?! Sulit banget mendustakan perasaan ini hiyak wkwkwk. Mereka kayak jaga jarak, seems lyke “awind this is not us. Dia bukan tipe kita” karena yang harus kalian ketahui pulpa itu just lyke anak alz, mau sekaya apapun kita bertingkah sederhana. Dan gue selalu dihempas dengan pertanyaan “bahagia jko kah wind?” repeatedly. Because they know walaupun gue bahagia, gue masih punya banyak alasan untuk sedih. That makes me sad.

Mereka selalu bilang ke gue alasannya “masi lama kan targetnya nikah?” “yakin dalam sekian tahun itu nda ada masalah? Yakin bisa lewati semuanya? Yakin dia nda bakal ketemu orang baru yang buat hatinya pindah? Bisa garansi semua baik baik saja dalam kurun 3-4 tahun ke depan?” okay gue almost in tears HMMMMMMMM. Moi pulfak. Kembarannya stavolt. Tapi they mean so much more to me.

Sampai tiba saatnya saat gue tau dia emang brengsek. Mata gue sembab bukan main. Meanwhile gue udah sebulan ga deket deket amat sama angkatan but they were asking me terribly hard “kenapa awind”9999x “baruji sekian bulan dikasi begini mko?” gue Cuma bisa bohong habis nonton drama korea. Ofc the real friends wont trust it easily. Gue gapernah berani cerita ini ke pulfak, karena gue tahu gue bakal dimarahin besar-besaran. Cowok pertama dan satu satunya yang pernah gue ceritain hanya budi. Mungkin ada yang tau seberapa deketnya gue ke dia sejak maba, till now. Temen sepemikiran gue yang mengertinya luar biasa sekali. Dia ladenin semua tangisan gue selama 2 jam-padahal kita ga talking to each other hampir 2 bulan. Tapi tetap seorang budi yang masih nerima gue-no matter how far i have been walking away-saja masih bilang “KAYAK MAU KUMARAHIKO BESAR BESARAN SEKARANG” fix gue gabisa ceritain ini ke orang lain.

I remember the make up running down his faces. Dan stupid di tulisan gue sebelumnya gue masi bela belain dia. Sekarang gue sedih aja guys karena di hampir 3 tahun ini gue udah menutup diri, dia maksain buat masuk padahal udah gue tolak, bodohnya saat maksain lagi gue terima dan gue yakin seyakin yakinnya karena emang yakinin. Karena emang gue satu satunya cewe yang dia seriusi in form pacaran selama kuliah. Harap maklum ya kalau tulisan ini agak harsh atau cheesy banget. Gue lagi patah hati soalnya. Gue kecewaa:”) hehew.
Share: