Sabtu, 23 September 2017

Selasa, 18 Juli 2017

Kepulangan ketiga

Ini adalah kepulangan ketiga gue pada masa perkuliahan. di kepulangan ketiga ini, something just stepping aside from its normal way.. gue seketika berubah jadi seorang ambivert yang hobinya jalan mulu, walaupun ujung ujungnya gue tetep masih butuh days dimana gue charging my self up, out of people ngurung diri dalam kamar being primitive as what i have always loved to do.

Kalau kata saudara gue @mnfiqrii di salah satu tulisannya, bahwa pulang merupakan keikhlasan yang tidak ikhlas maka hasil diskusi gue bersama saudara ukang dan obhi, gue fix menyimpulkan kalau pulang adalah kenikmatan yang tidak nikmat... karena gue akan selalu ikhlas untuk pulang, tidak peduli berapa nikmat atau tidak nikmat yang gue dapetin saat pulang, gue akan selalu mengalirinya dengan ikhlas lahir batin.

Di kepulangan ketiga ini, gue merasa lebih meresapi makna kepulangan. Its such a breath of relief oc yak.. Tapi, kata orang sebelum memaknai apa itu pulang, kita harus tau dulu alasan mengapa kita pergi.. #TSSSAgh

Tetapi lantas,
apakah setiap orang benar-benar tau kemana ia pergi?

Mengenai nikmat kepulangan, akan tetap sama. Tentang semilir angin berhembus tidak peduli seberapa teriknya matahari, atau juga udara segar selepas subuh dan aroma asin laut yang begitu khas. Disitulah ingatan gue mungkin akan selalu tinggal, khususnya bagi gue yang menghabiskan hampir seluruh kehidupan gue deket laut. Sayangnya, bukan ini yang selalu buat gue nangis ketika balik lagi untuk merantau, melainkan nikmat yang enggak lo dapetin ketika lo ngerantau; nikmat mencium tangan kedua orang tua lo di 5 waktu. Sebuah nikmat yang selayaknya ga boleh dilewatkan menurut gue. Sounds melanholic tapi inisih yang bikin gue sedih berkepanjangan. What if and another if...

Jika tadi adalah nikmat primer yang bisa gue maknai dari kata pulang, maka nikmat sekundernya adalah gue lagi lagi diburu hutang untuk berkontemplasi sehingga melahirkan entri ini.awalnya gue begitu seneng luar biasa, ada perasaan yang gue gatau ini apa... ketika gue bahagia ngelihat kehidupan temen temen gue yang perlahan mulai berubah, satu per satu. Moment dimana finally lo bisa respek sama orang dengan pilihan hidupnya masing masing.

Sederhananya, pulang kali ini bakal buat gue selalu inget ketika fandy jemput untuk tarwih bareng dan naskun malam bareng, gue bakal inget saat GRD38 ke padang jese, berkontemplasi, clarifying whats left unsaid *apasih serta mengajari satu sama lain untuk ikhlas mengenai apa apa saja yang sudah terjadi di belakang, ditemani dengan dinginnya udara pegunungan serta kerlap kerlip kota palu dari atas yang menurut gue, ga ada tandingannya bro. Gue bakal inget ketika cowok grd yang kali ini hampir keseringan untuk menjadikan rumah gue sebagai sekret. baik main ps, tempat cerita, atau hanya sekedar main keyboard hingga ibu gue kewalahan melayani tamu yang kata ibu, "buatkan kamar saja satu" alih alih ga perlu repot untuk selalu pulang jam 12 malam. Atau saat stavolt and the gank bertamu saat lebaran dari sore sampe malem, dan dalam kurun waktu tersebut hanya bahas soal "definisi bahagia" yang sebenernya ga berujung, dengan jendral sebagai pemateri. Gue bakal inget ketika gue having trip bersama GRD ke pusat laut. Those magnetic-views. Atau iki dan perky yang suka jemput tiba tiba kalau malam. July party and that-back to high school-theme, kegilaan setelah 2 tahun gapake baju SMA, ya kemudian dipake lagi. alhasil wajah kita ternyata ga berubah, teteup sama kang, neng.

Atau juga kisah anjasmara gue yang kalut naik turun BHAHAHAK. Or gue mendadak deket sama orang as a bestfriend. Or lagi orang-orang yang dulunya-gue-jarang-diajak-jalan kembali diajak jalan, even if i already been here guys. That was only making me missing them so much more. I feel loved, you know.

Atau juga, nayla yang sekarang tingginya udah kayak pohon kelapa aja, yang selalu dibubuhi kata "assalamualaikum, sorry ee" di setiap langkahnya, dan anak kecil ini malahan gamau tidur kalau dia belum dimaafin. Atau juga ingatan gue yang selalu tertuju pada keluarga gue yang setiba-tibanya hampir tiap hari jalan ke rumah. Teduhnya laut dan langit di citraland. Raut wajah penuh tawa bahagia ketika ibu dan tante gue-duo-gendut who were trying to push mobil-mobilan di citraland but failed, ended up of laughing out loud. Kesibukan 2 kakak sepupu gue yang mau nikah di akhir tahun, Atau perihnya kisah putri.. when she accidentally figured it out that dia adalah anak angkat di masa labilnya, and it hurts our big family like so much. Atau juga setiap tawa bercampur rasa takut yang gue dapetin ketika satu keluarga besar gue sempit sempitan naik perahu yang besarnya kayu perahu titanic (emangada), atau juga soal kamu. #lahapanih

Soal Ketidaknikmatan
Pulang dan tidak nikmat nyatanya 2 hal yang menuai paksa ketika dibersamakan. Tidak nikmat di kepulangan kali ini... mungkin hanya soal terror organisasi, lebih tepatnya tanggung jawab di tanah rantau. Tidak nikmat yang seringkali disebut tidak ikhlas oleh teman gue, dari sebuah kepulangan yakni ketika dihujam pertanyaan kapan lulus? atau juga soal jodoh jodohan atau soal lamar lamaran yang datangnya udah kayak orang demo aja. yang pengen gue sampein sih, mimpi dan karir gue masih panjang. ehehehe

Sampailah kita di akhir entri guys. Sebenernya, apa yang gue cari dari sebuah kepulangan, udah gue dapetin. Gue juga mau berterima kasih ke elo, karena selayaknya gue udah dapt jawaban dari kesabaran yang udah gue jalanin. Justru gue sekarang lagi bingung..apakah dengan banyaknya kenangan yang gue tumpat di kepulangan ini, lantas menjadikan gue lebih kuat atau lebih lemah ketika balik ke tanah rantau nanti... semoga saja jawabannya adalah apa yang gue butuhin, bukan sekedar apa yang gue inginkan. :)
Share:

Minggu, 09 Juli 2017

-

"Kau rumah yang membuatku lupa pulang. Kau petang. dan burung-burung mencari sarang. Kau senyum yang ku sembunyikan dari kemarahan ibu"
Share:

Kamis, 22 Juni 2017

Perihal, kamu

[EDISI CURCOL]

Saya mendesah pelan, perihal suatu hal yang tidak pernah lepas dari pikiran saya akhir-akhir ini. siang dan malam, pagi dan petang, saat bangun dan terlelap, saat istirahat maupun beraktivitas sekalipun, lagi lagi kamu datang menghantui saya dengan wujud dalam berbagai bentuk. kadang kamu datang berwujud skenario dan mimpi mimpi yang pernah ada. tapi esok harinya kamu datang lagi dalam wujud asam manisnya kenangan.

Allah begitu baik, Tiada habisnya kesabaranku ditenun menunggu untuk orang yang seperti kamu. Sudah hampir 3 tahun saya berdoa dengan nama yang sama. Bercengkerama denganNya perihal kamu dan segala egomu. Perihal kamu dan segala impimu. Berharap semesta mengamini kita dan mimpi mimpi kamu, setidaknya. Kiranya bila untaian mimpi itu masih bisa menjulur kembali. Dan kiranya titah suaraku dapat diterjemahkan dalam sebuah lagu, maka akan ku pastikan doaku adalah lagu yang tidak pernah bosan untuk kumainkan kelak di hadapanmu.

Ribuan orang yang saya temui di tahun-tahun ini, namun saya kesulitan menemui sosok kamu di dalam mereka. Ratusan hari saya menyibukkan diri dengan segala kesibukan agar lebih mudah lupa. Puluhan hati datang menjadi penawar. Tetapi pada akhirnya lantunan doa saya kalah. Saya berada diujung asa dalam mendayuh sepeda itu. Batu-batu di jalanan menyeru untuk berbalik arah. Saya goyah. Saya lelah. Hatiku tertatih melangkah kepadamu.

Bukan kepulangan saya yang mampu menghadirkan kamu kembali. Namun kegagalan ikhtiar saya, perihal kegagalan saya mendayu pedal doa untuk berlabuh di hatimu, kembali. Sekarang saya justru memilih satu hati untuk berlabuh. Berteduh dari janji-janji ketidakpastian yang pernah kamu tawarkan. Tapi, ironinya saya masih belum sanggup menghapus mimpi kita. Doaku masih belum sanggup berganti nama.

Menertawakan kesedihan dan kebodohanku adalah hal yang tanpa sadar saya lakukan saat ini, setidaknya setelah hatimu berpaling. Namun bukankah tertawa juga butuh jeda? Bukankah deretan kata juga butuh jarak agar ia dapat terbaca?

Akhir kata, saya percaya bahwa Allah begitu baik untuk kita. Tenunan kesabaran itu akan menghasilkan sosok hati yang kuat dan tabah. Saya percaya Allah sedang menyiapkan jawaban yang paling membahagiakan untuk kita. Suatu saat nanti doa saya perihal kamu akan segera terjawab; Jika tidak di lain hari, mungkin di lain hati.

Share:

Kamis, 01 Juni 2017

Berharap kepada selain Allah


Jika kalian pernah baca mengenai tulisan gue kemarin soal jatuh hati (yang sekarang udah gue hapus karena sifatnya pribadi banget, gue lg di bawah alam sadar pas nulis) pasti kalian bisa menarik ulur benang merah kali ini.

Jadi kronologisnya, gue lagi chatting sama seseorang. kita sering sharing dan tukar pendapat mengenai agama, organisasi, dan sebagainya. namun ada satu hal yang ingin dia sampein setelah tarawih. Jadi yang lo bisa tebak gue nunggu setelah tarwih. Berhubung gengsi gue tinggi banget, gue gamau sama sekali hubungin doi duluan, jam 12an as always jam rutin tidur kita setelah chat berhubung mau sahur dan doi ga muncul juga gue langsung tidur.

Dan pas subuh, as always juga doi nge-line duluan. Dan yang bikin hati gue terenyuh terkelupas perih sakit, doi seolah ngungkit perasaan terpendam gue. “nda kecewa jki?”

Btw siapa sih gak kecewa kalau nunggu orang, dan ternyata dia ngelanggar janjinya? Tapi yang buat gue makin terenyuh lagi karena beliau nyatain “nda boleh sepenuhnya kita berharap penuh manusia. Berharap itu sama Allah dek”

Tapi apa ya… hati gue perih banget denger statement tersebut. Gue sejenak kayak kilas balik masa lalu gue sebelumnya, dimana sejak kecil ayah dan ibu selalu mewanti-wanti untuk tidak berharap kepada orang lain, proudly and arrogantly gue saying kalau gue bener-bener anak mandiri walaupun harus nanggung semuanya disini *nunjuk hati*

Ibu gue selalu bilang sesusah apapun jangan mengeluh, sesenang apapun jangan berlebihan. Bukti konkrit keluarga gue gapernah ngeluh ke orang lain mengenai masalah internal keluarga gue, lo hanya perlu terlihat just fine walaupun lo banyak masalah pikiran dan mungkin ini yang bikin karakter gue sebagai seorang introvert.

Sejak kecil juga ayah selalu marahin gue kalau gue justru menyalahkan orang lain perihal sesuatu yang gue gabisa lakuin. Walaupun ujung-ujungnya gue jadi pribadi yang pemikir banget, peragu dan juga cenderung nyalahin diri sendiri. Kilas balik lagi, selama gue kuliah.. apapun yang terjadi gue gapernah berharap sama orang lain walaupun gue udah mau pingsan kerjainnnya. Ospek pun begitu, gue ngelihat sesti yang dibantu sama fiqri dan mishfah ngga menjadikan gue pengen berharap juga sama orang lain buat dibantu. Dan saat SD-pun, gue nangis nangis kerjain peer aritmatika yang sehari bisa 500an nomer ga menjadikan gue minta bantuan ke orang lain untuk ngerjain hal tersebut. Be independent!

Tapi terkadang, kalau bicara soal hati gue masih lalai. Dengan sifat hati yang selalu berbolak balik, lalu kemudian sengaja ga sengaja pasti hati memupuk rasa harap tsb. Yaa wajar sih kalau orang orang pada bilang cinta itu buta. 

Dan setelah statement tadi, gue merasa jadilebih kuat dibanding sebelumnya. Gue merasa gaperlu berharap lagi sama doi*eh. Hahaha, engga deng. Dunia akan selalu lebih indah dan tenteram ketika lo percaya bahwa lo bisa ngelakuin semuanya tanpa bantuan orang lain. Allah akan menjadikanmu kuat dengan hanya berharap penuh kepadaNya. Berusahalah semaksimal mungkin! 

Satu lagi paragraf yang pengern gue utarain. jatuh cinta boleh, tapi jangan sampai buat Allah cemburu. Wassalam, selamat menjalankan ibadah puasa
Share:

Selasa, 16 Mei 2017

Bumi-ku

Teruntuk bumi yang kini menyelubungi pikiran langit.
Teruntuk bumi, orang yang baru saja ku kenal 7 hari singkatnya.


Sependek pengetahuanku, layaknya kata yang sering kau sebutkan saat kita bertemu...Cinta adalah suatu hal yang tidak terdefinisi. Demikian pula kagum, suatu hal non materi yang tidak diketahui rupanya. Namun bukanlah suatu hal layaknya perasaan yang berwujud non materi pada hakikatnya akan selalu sempurna?


Layaknya langit dan bumi yang diam diam selalu bertemu tatap, maka diam diam pula ada yang meluluh pada hati bumi.

Lucu rasanya saat diam kita bertemu tatap. Saling membaca pikiran masing-masing. Dan kamu, bumi.. Orang yang egonya tinggi mengaku sok-open-minded mampu mengeksploitasi pikiranku yang terlampau kaku.

Sudah lama rasanya aku tidak mengagumi orang sehebat ini. Merasa nyaman atas segala ketidaksempurnaan, merasa nyaman akan hal yang berwujud non materi, merasa nyaman ketika kau, bumi.. yang hebat dalam meluluhlantahkan benteng hingga memasuki jiwaku dengan kata kita.

Hati langit selalu tersungging malu ketika kau, bumi... justru memilih langit sebagai sosok yang mampu menjabarkan semua kalimat tersirat yang selalu engkau lafadzhkan.

Kagum tak melulu soal rupa,hanya soal hati. lalu anggap saja langit, sebagaimana hakikatnya akan selalu mengupayakan segala sesuatunya untuk bumi.

Jauh tak begitu jauh, dekat tak begitu dekat. Namun langit hanya ingin mengagumi sosok bumi dalam imannya. Berserah diri dan berharap yang terbaik, agar Allah tidak cemburu akan hati langit yang diam diam berharap besar pada bumi.

P.S: gue gak lagi kasmaran.
Share:

Kamis, 11 Mei 2017

LK 2 (2)

Inti dari tulisan gue sebenernya di point ini sih. Malam ketiga gue discreening sama ketua bem fk periode ini secara langsung. Setengah 12 baru mulai loh, pikiran gue gak karuan analisa gue gak jalan, ditambah keilmuan gue bener-bener parah. Gue ga ngerti filsafat karena gue gak pro filsafat sih sebenernya, atas dasar agama yang gue miliki. Yaudah, gue berusaha aja selama gue bisa.

Satu hal yang bikin gue tertarik, malam itu gue diajak diskusi kelembagaan sama dia. 3 jam screening, 1,5 jam gue diajak diskusi doang. Gue merasa kurang cocok sama screener gue kali ini, karena pemikiran kita emang belum nyatu di malam itu, dan akhirnya dia open banget soal kehidupan lembaganya, dan gue sebagai pengurus juga ceritain ironi kelembagaan dan kemahasiswaan saat ini.  Dia punya kemampuan untuk menyatukan pemikiran dan intuisi dengan berbagai cara. Ternyata dia merupakan temen dari kak naufal kak ika dll karena alumni insan cendekia, dia kenaal banget sama alazhar karena merupakan sahabat dari kak opa dan kak qonitah. dan ketika screening nya selesai dan kita jalan bareng menuju tempat registrasi, dia nyatain “dari awal saya liat kamu, saya rasa bakalan susah saya masuki ini anak. Saya gak bakalan melangkah maju kalau saya belum berhasil di titik awal”

Pernyataan beliau gue bales tanpa rasa bersalah “kalau gitu kita memang beda kak. Saya juga gak bakalan berusaha menggali apa yang seseorang maksud kepada saya. Saya tidak suka berasumsi secara subjektif, karena saya eksistensialis”

Lusa harinya gue screening dimensi ke4. Sama cewek.  Akbar budi dan orang yang setia nungguin gue lainnya seneng dong ya. Karena setiap screening gue pasti selesainya lewat dari jam 12, malam itu mereka optimis gue hanya sejam doang. Hatihati loh kecewa guys:”0 buahahah

Ironinya gue discreening sama 3 orang sekaligus. Cewek yang tadi hanya merupakan kaderisasi screener, sejenis itu lah pokoknya. Dan guess siapa salah satu orangnya? Kak nanda, yang tiba-tiba mampir (orang yang screening gue kemarin) Gue seneng sih, karena pengamatan gue secara subjektif dia paternalistic sama orang yang udah dia kenal. Gue merasa ada ikatan batin sama dia #wohoo. Ketika 2 screener lain pergi, lagi-lagi kita berdiskusi 4 mata tentang apa yang membuat pemikiran kita resah saat ini. Refleksi nilai-nilai kemahasiswaan dan solusi yang ditawarkan, kita juga saling arguing mengenai kelemahan kita masing-masing. Btw setiap gue diskusi yang menurut gue aneh kita hanya diskusi 4 mata doang. Maksud gue gini, saat screener gue yang cewek ada, dengan kekuasaan yang dia miliki dia nyuruh cewek tersebut untuk being so busy biar kita gak gangguin diskusi antara gue dan beliau. Dan menurut gue sih, diskusi kami yang notabene luas banget kesannya kayak ngegosip gitu:”)

Selesai screening, kemudian nungguin presentasi makalah… tiba tiba dia nyamperin gue dan nge gosip lagi. Apa ya.. kadang gue ngerasa gak enak sama anak fk karena SKSD banget sama ketua bem nya. Gue bicara terkait permasalahan kelembagaan yang notabene temennya sendiri yang menurut gue menemui jalan buntu. Dan akhirnya gue ditinggalin sama dia katanya pengen main ludo king yang lagi trend saat ini :”)

Screener gue yang pertama orangnya juga baik banget, mungkin dia kasihan ngeliat gue nunggu dan gue cewek. Dia ngeusahain screener untuk gue setiap gue screening. Dan gue sebenernya pengen ucapin terima kasih yang amat banyak, tapi gue takut-_- gue takut salah tanggap. Apa ya… pokoknya gitu deh. Hahahah

Subjektifitas atau sifat paternalistic dari kak nanda diperlihatkan lagi saat gue antri screening makalah dan itu udah jam setengah 3 lewat. Dia ngambil gue lagi dan lagi. Berbeda dengan screening sebelumnya, dia lebih banyak dengerin gue dan jarang buat mengelak dari argumen gue. Gue hampir aja ditarik sama screener yang lain, namun katanya gini “udah hampir selesai” gue dan kak nanda saling melempar lirikan kemenangan, apa yaaa… entah kenapa gue ngerasa kita bisa saling baca pikiran kita masing-masing HAHAHAHH. 

Yang gue nilai dari kak nanda sih orangnya sama terhadap semua orang ya mungkin karena sifatnya lumayan agresif. Dan satu hal lagi, gue ngerasa deket banget sama kak nanda… karena setiap gue bersama dia, gue merasa lagi bareng sama anak alazhar, gue merasa ada ikatan kekeluargaan, dan gue ngerasa sifatnya mirip banget sama kak naufal. I adore him, and its such an honor for me buat kenal sama seorang ketua bem yang open minded banget, yang ngerangkul orang lain, yang kuat banget agamanya, humble, dan juga yang pinter banget. (btw gue sempat debat tentang urtikaria dan eritema pada malam itu karena beliau yang lagi digigit nyamuk) sekiaaaan
Share:

LK 2 (1)

Jadi ceritanya sekarang gue megang 3 organisasi sekaligus yang bikin gue napas aja susah. Tidur aja syukur. Ketawa aja pengen nangis. Sehari, seminggu, sebulan dan bulan bulan berikutnya gue padat dan gue gatau bahkan gabisa ngebayangin kehidupan gue selanjutnya bagaimana.

Intermezo gue kali ini lumayan singkat. Jadi setelah serangkaian kepadatan jadwal gue tadi sore (5517), gue diajak sekaligus dituntut untuk mengikuti lk2, sejenis pelatihan organisasi tingkat menengah sama temen gue sendiri, budi. Gue yang padat banget biar napas aja susah akhirnya meng-iyakan, walaupun gue ujian blok hari rabu tetep gue iya-in daripada gue dihantui di bulan-bulan berikutnya sama kegiatan ini.

Di hari pertama screening, gue discreening sama cowok dari PDU, gue manggilnya kakak entah karena gue merasa sok muda gitu. Agresif banget lah orangnya, yang bikin gue kesel dia minta gue harus tau sedetail-detailnya mengenai kemahasiswaan, walaupun searching sekalipun. Dan akhirnya gue dipantul! Sungguh tidak terhormat-_- and well, gue seneng sama dia ya karena selama screening gue disediain air sebotol, disediain makanan, disediain kopi lagi. Berkah banget hidup gue bro. walaupun at the end gue kesel banget lagi dan lagi karena beliau ternyata angkatan 2015 dan akselerasi! Hft. At the end, screening gue selese jam setengah 1 malam. EMPAT JAM BRO. kak baso, kak topan, akbar dan budi yang nungguin gue udah kesel kebangetan sama screener gue. “Budi aja selesainya sejam lebih” yaudah, yang penting selesai kan.

Di hari kedua, gue discreening sama orang yang belakangan gue tau mantan ketua bem fk periode 4 tahun yang lalu. Dia koas. Pembawaannya tenang, dan mukanya mirip dosen gue. Kalau di screening sebelumnya gue harus tau sedetail-detailnya,  di screener ini enggak sama sekali. Kalau nggak tau gue didiemin aja, terus lanjut lagi. 

Btw… gue kagum sama orang ini. Pembawaannya tenang, dan gue melihat sudut pandang yang sangat-sangat berbeda diantara kita. Gue berdebat or arguing dengan pikiran yang tenang pula loh jadinya. Tapi, satu yang bikin gue tersentak dan sedikit kesel malam itu saat ternyata beliau ngebaca gue secara keseluruhan, apa ya… sejenis nebak kepribadian gue “kamu tuh saya liat daritadi sebagai orang yang terlalu EKSISTENSIALIS. Sangat berbanding terbalik dengan saya yang mengutamakan pemikiran substansialis” gue yang nunjukkin raut kesel dan wajah ekspresif yang gampang banget berubah selalu disambut sama tertawaannya yang menurut gue penuh wibawa juga. #salfoknih

Pembahasan malam itu luas banget menurut gue. Dia nyinggung segala hal yang gue singgung, kepemimpinan, feminism, politik bahkan keilmuan sekalipun. Satu hal yang gue suka dari malam itu, ternyata ada orang yang emang gak suka sama tipe kepemimpinan di zaman sekarang yang blusukan. Kata beliau “rakyat gak bakalan mandiri kalau blusukan secara terus menerus. Mereka bakal berharap dan terus berharap” gue terkesima dengan pernyataan ini sebagai orang yang sangat sangat pro Jokowi dan pro Ahok. Namun di lain sisi dia sangat pro Anies dengan alasan “mencerdaskan kehidupan bangsa” gue dengan serentetan argument gue, dan dia tetep dengan serangkaian argumen dia. so far, he is adorable like so much.
Share: